Saturday, 21 March 2015

Senantiasa Bertawakal

Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata
‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan,
mempercayakan dan mewakilkan. Seseorang yang
bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan,
mempercayakan dan mewakilkan segala
urusannya hanya kepada Allah SWT.
Sedangkan dari segi istilahnya, tawakal
didefinisikan oleh beberapa ulama salaf, yang sesungguhnya memiliki muara yang sama.

Diantara definisi mereka adalah:
1. Menurut Imam Ahmad bin Hambal.
Tawakal merupakan aktivias hati, artinya
tawakal itu merupakan perbuatan yang
dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang
diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu
yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan
tawakal juga bukan merupakan sebuah
keilmuan dan pengetahuan. (Al-Jauzi/
Tahdzib Madarijis Salikin, tt : 337)

2. Ibnu Qoyim al-Jauzi
“Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah
(baca; penghambaan) hati dengan
menyandarkan segala sesuatu hanya kepada
Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan
bahwa Allah akan memberikannya segala
‘kecukupan’ bagi dirinya…, dengan tetap
melaksanakan ‘sebab-sebab’ (baca ; faktor-
faktor yang mengarakhkannya pada sesuatu
yang dicarinya) serta usaha keras untuk
dapat memperolehnya.” (Al-Jauzi/ Arruh fi
Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail
minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)

Banyak orang yang salah memahami tawakal
dalam kehidupan sehari hari, mereka
mengharapkan sesuatu tanpa ada usaha
sedikitpun mendapatkan apa yang diinginkannya
itu. Ini adalah sikap tawakal yang salah kaprah.
Bertawakal itu diujung usaha. Kita harus berusaha
semaksimal mungkin kemudian baru bertawakal
dan berserah diri pada Allah.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia
akan mengadakan baginya jalan keluar.  Dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal
kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan
bagi tiap-tiap sesuatu. (At Thalaq 2-3).

Allah menjamin rezeki orang yang selalu berusaha
dan bertawakal padaNya sebagaimana yang
dikisahkan oleh Umar bin Khattab ra bahwa ia
pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda :
‘Sekiranya kalian benar-benar bertawakal
kepada Allah SWT dengan tawakal yang
sebenar-benarnya, sungguh kalian akan
diberi rizki (oleh Allah SWT), sebagaimana
seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi
pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan
pulang di sore hari dalam keadaan kenyang ”
…. (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Tidak dibenarkan ketika ditimpa suatu penyakit
kemudian berdiam diri pasrah dan bertawakal pada
Allah tanpa ada usaha sedikitpun untuk berobat.
Mengharapkan kekayaan atau kesuksesan namun
hanya berdiam diri dirumah tanpa usaha
sedikitpun. Itu adalah tawakal salah kaprah.

Melatih sikap tawakal
Sikap tawakal tidak akan muncul begitu saja dalam
diri seseorang. Sikap itu akan muncul dan
tertanam dalam diri seseoang melalui latihan ,
pengalaman dan waktu yang lama. Sikap tawakal
adalah masalah hati. Tidak mudah untuk bersikap
ikhlas dan berserah diri pada Allah.
Hati manusia selalu dirongrong oleh rasa cemas,
takut, was was, bimbang , ragu yang selalu
ditiupkan syetan kedalam hati manusia. Kita harus
sanggup mengalahkan semua perasaan tersebut.
Jika berbagai sifat dan perasaan tersebut masih
bercokol dihati kita , sulit bagi kita untuk
bertawakal pada Allah.
Shalat yang dilakukan dengan benar dan khusuk
dapat membantu menghilangkan berbagai rasa
cemas, takut, bimbang, ragu seperti tersebut
diatas. Ayat dan kalimat yang dibaca dalam shalat
jika dipahami dan dimengerti maksudnya berisi
motivasi dan nasehat yang dapat menghilangkan
semua sifat tersebut. Namun jika shalat dilakukan
secara asal asalan tanpa mengerti makna dan
maksud ayat yang dibaca , berbagai sifat buruk
tersebut tidak akan bisa hilang.
Kalimat dzikir seperti tasbih, hamdalah, tahlil,
hasbalah, yang dibaca didalam hati dengan
sungguh sungguh dan penuh keyakinan juga dapat
membersihkan hati dari sifat buruk tersebut.
Membaca Qur’an setiap hari dengan memahami
setiap ayat yang dibaca (membaca dengan
terjemahannya), juga dapat membersihkan hati
dari berbagai penyakit tersebut diatas.

Sifat tawakal dan berserah diri pada Allah adalah
kekuatan yang maha dahsayat dalam menghadapi
berbagai masalah dan persoalah hidup, Allah telah
menjajikan ini dalam surat Ali imran ayat 160:
Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang
yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah
membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan),
maka siapakah gerangan yang dapat menolong
kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu
hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin
bertawakkal. (Ali Imran 160)

Semoga kita terus diberikan kekuatan oleh Allah SWT, agar senantiasa bertawakal.

Friday, 20 March 2015

Bolehkah memakai Batu Akik ??

Bagaimana hukum memakai cincin batu akik?
Apakah boleh ataukah haram dan dihukumi
syirik?
Asal Pakai Cincin itu Boleh
Hal ini berdasarkan riwayat dari Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu , ia berkata:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
menulis atau ingin menulis. Ada yang
mengatakan padanya, mereka tidak membaca
kitab kecuali dicap. Kemudian beliau mengambil
cincin dari perak yang terukir nama ‘Muhammad
Rasulullah’. Seakan-akan saya melihat putihnya
tangan beliau.” (HR. Bukhari no. 65 dan Muslim
no. 2092)

Keyakinan pada Batu Akik
Kalau batu akik dipakai sebagai hiasan di jari
saja tak jadi masalah besar. Yang jadi masalah
adalah jika diyakini sebagai batu akik tersebut
sebagai penglaris, pengasihan, pelindung diri,
pencegah penyakit, dan keyakinan lainnya yang
tak terbukti ilmiahnya.
Berdasarkan keterangan dari Syaikh Ibnu
‘Utsaimin dalam Fathu Dzil Jalali wal Ikram (15:
217), ada tiga sebab yaitu bisa jadi terbukti
secara syar’i (ada dalil), bisa jadi terbukti secara
eksperimen, yang ketiga itu tidak terbukti secara
syar’i dan eksperimen. Itu sebab jenis ketiga ini
termasuk kesyirikan menurut beliau.
Jika ada yang memakai batu cincin akik lebih
dari sekedar dipakai, yaitu punya keyakinan
tambahan seperti batu akik dianggap sebagai
penglaris dagangan, sebagaian pengasihan,
diyakini sebagai pencegah dan penyembuh
penyakit tanpa ada bukti ilmiah, berarti termasuk
dalam kesyirikan.

Allah Ta'ala berfirman :
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada
mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan
bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”.
Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku
tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika
Allah hendak mendatangkan kemudharatan
kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat
menghilangkan kemudharatan itu , atau jika Allah
hendak memberi rahmat kepadaku, apakah
mereka dapat menahan rahmat-Nya?.
Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-
Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah
diri. ” (QS. Az Zumar: 38)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat
di lengan seorang pria terdapat gelang yang
dinampakkan padanya. Pria tersebut berkata
bahwa gelang itu terbuat dari kuningan. Lalu
beliau berkata, “Untuk apa engkau
memakainya?” Pria tadi menjawab, “(Ini dipasang
untuk mencegah dari) wahinah (penyakit yang
ada di lengan atas).” Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam lantas bersabda, “ Gelang tadi malah
membuatmu semakin lemah. Buanglah!
Seandainya engkau mati dalam keadaan masih
mengenakan gelang tersebut, engkau tidak akan
beruntung selamanya .” (HR. Ahmad 4: 445 dan
Ibnu Majah no. 3531) [1] .
Dalam Tafsir Ibnu Abi Hatim (43: 179), dari
Hudzaifah, di mana ia pernah melihat seseorang
memakai benang untuk mencegah demam,
kemudian ia memotongnya. Lantas Hudzaifah
membacakan firman Allah Ta’ala ,
ﻭَﻣَﺎ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﻫُﻢْ ﻣُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ
“Dan sebahagian besar dari mereka tidak
beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan
mempersekutukan Allah (dengan sembahan-
sembahan lain) .” (QS. Yusuf: 106)

Lihatlah bagaimana sikap keras para sahabat
bagi orang yang mengenakan jimat untuk
melindungi dirinya dari sakit, dalam rangka
meraih maslahat. Jimat tersebut sampai
dipotong, walau tidak diizinkan. Dalam
penjelesan di atas menunjukkan bahwa
seseorang bisa berdalil dengan ayat yang
menjelaskan tentang syirik akbar (besar) untuk
maksud menjelaskan syirik ashgor (kecil) karena
kedua-duanya sama-sama syirik (Lihat Fathul
Majid, 132).

Jadi kesimpulannya, memakai batu akik boleh saja sebagai hiasan asalkan tidak mengandung unsur kesyirikan di dalamnya.
Yang tidak boleh adalah jika diyakini batu tersebut bisa sebagai pengasihan, penglaris, pelindung, pencegah penyakit dan keyakinan lainnya yang tak terbukti ilmiahnya.

Semoga Allah melindungi dan menjauhkan kita dari segala bentuk kesyirikan. Aamiin.

Wednesday, 18 March 2015

Mencari Kesalahan Orang

Mencari Kesalahan Orang Beriman



Tajassus di antara tafsirannya adalah mencari-cari kesalahan orang lain, terutama yang terus ingin dicari aibnya adalah orang-orang beriman.

Jangan Selalu Menaruh Curiga (Prasangka Buruk)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
Waspadalah dengan buruk sangka karena buruk sangka adalah sejelek-jeleknya perkataan dusta.” (HR. Bukhari no. 5143 dan Muslim no. 2563)
Prasangka yang terlarang adalah prasangka yang tidak disandarkan pada bukti. Oleh karena itu, jika prasangka itu dinyatakan pasti (bukan lintasan dalam hati), maka dinamakan kadzib atau dusta. Inilah yang disebutkan dalam Fathul Bari karya Ibnu Hajar.

Menaruh Curiga pada Orang Beriman

Larangan berburuk sangka dan tajassus disebutkan dalam ayat Al Qur’an,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).
Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Jalalain, menaruh curiga atau prasangka buruk yang terlarang adalah prasangka jelek pada orang beriman dan pelaku kebaikan, dan itulah yang dominan dibandingkan prasangka pada ahli maksiat. Kalau menaruh curiga pada orang yang gemar maksiat tentu tidak wajar. Adapun makna, janganlah ‘tajassus’ adalah jangan mencari-cari dan mengikuti kesalahan dan ‘aib kaum muslimin.
Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Akibat Buruk Tajassus

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 7042). Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair.
Yang namanya tembaga cair tentu saja dalam keadaan yang begitu panas. Na’udzu billah.
Ibnu Batthol mengatakan bahwa ada ulama yang berpendapat, hadits yang ada menunjukkan bahwa yang mendapatkan ancaman hanyalah untuk orang yang “nguping” dan yang membicarakan tersebut tidak suka yang lain mendengarnya.
Namun yang tepat jika tidak diketahui mereka suka ataukah tidak, maka baiknya tidak menguping berita tersebut kecuali dengan izin mereka. Karena ada hadits di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa terlarang masuk mendengar orang yang sedang berbisik-bisik (berbicara empat mata). Seperti ini dilarang kecuali dengan izin yang berbicara. Demikian diterangkan oleh Ibnu Batthol dalam Syarh Shahih Al Bukhari.
Dari Mu’awiyah, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّكَ إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ أَفْسَدْتَهُمْ أَوْ كِدْتَ أَنْ تُفْسِدَهُمْ
Jika engkau mengikuti cela (kesalahan) kaum muslimin, engkau pasti merusak mereka atau engkau hampir merusak mereka.” (HR. Abu Daud no. 4888. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa hadits ini shahih). Ini juga akibat buruk dari mencari-cari terus kesalahan orang lain.
Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa tak perlulah menaruh curiga pada orang muslim yang berjenggot dan ingin kembali pada ajaran Islam yang hakiki. Tak pantas mereka terus dicurigai sebagai teroris atau bahkan dengan aliran sesat yang saat ini naik daun, yaitu ISIS.

Kalau Curiga Ada Bukti, Itu Boleh

Dari Zaid bin Wahab, ia berkata,
عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ أُتِىَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَقِيلَ هَذَا فُلاَنٌ تَقْطُرُ لِحْيَتُهُ خَمْرًا فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ إِنَّا قَدْ نُهِينَا عَنِ التَّجَسُّسِ وَلَكِنْ إِنْ يَظْهَرْ لَنَا شَىْءٌ نَأْخُذْ بِهِ
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu telah didatangi oleh seseorang, lalu dikatakan kepadanya, “Orang ini jenggotnyabertetesan khamr.” Ibnu Mas’du pun berkata, “Kami memang telah dilarang untuk tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain). Tapi jika tampak sesuatu bagi kami, kami akan menindaknya.” (HR. Abu Daud no. 4890. Sanad hadits ini dhaif menurut Al Hafizh Abu Thohir, sedangkan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanadnyashahih).
Sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin bahwa terlarang berburuk sangka pada kaum muslimin tanpa ada alasan yang mendesak.

Mulai Belajar untuk Husnuzhon

Contohnya belajar untuk husnuzhon, terhadapa makanan kaum muslimin saja kita diperintahkan untuk husnuzhon. Jangan terlalu banyak taruh curiga tanpa bukti.
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِى أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ada suatu kaum yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari no. 2057).

Lebih Baik Memikirkan Aib Sendiri

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذَلَ- أَوِ الجَذَعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ
Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 592. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih).
Perkataan Abu Hurairah di atas sama seperti tuturan peribahasa kita, “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak.”
Itulah kita, seringnya memikirkan aib orang lain. Padahal hanya sedikit aib mereka yang kita tahu. Sedangkan aib kita, kita sendiri yang lebih mengetahuinya dan itu begitu banyaknya.
Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Tuesday, 17 March 2015

Tanda Cinta Allah pada umat-Nya

Ujian dan Musibah Tanda Allah Cinta


Sebagai manusia kita tak lepas dari berbagai ujian dan cobaan. Sebagai orang yang beriman, sepatutnya kita menyadari bahwa cobaan dan musibah diberikan karena Allah semakin sayang kepada kita. Semakin tinggi kualitas iman kita, semakin berat pula ujiannya. Oleh karena itu sebagai orang yang beriman, kita harus tetap bersabar dan bertawakal  karena dalam ujian dan cobaan-Nya terdapat pahala yang besar jika kita melewati dengan bersabar.


Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani).
Juga dari hadits Anas bin Malik, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).

Faedah dari dua hadits di atas:

1- Musibah yang berat (dari segi kualitas dan kuantitas) akan mendapat balasan pahala yang besar.
2- Tanda Allah cinta, Allah akan menguji hamba-Nya. Dan Allah yang lebih mengetahui keadaan hamba-Nya. Kata Lukman -seorang sholih- pada anaknya,
يا بني الذهب والفضة يختبران بالنار والمؤمن يختبر بالبلاء
Wahai anakku, ketahuilah bahwa emas dan perak diuji keampuhannya dengan api sedangkan seorang mukmin diuji dengan ditimpakan musibah.”
3- Siapa yang ridho dengan ketetapan Allah, ia akan meraih ridho Allah dengan mendapat pahala yang besar.
4- Siapa yang tidak suka dengan ketetapan Allah, ia akan mendapat siksa yang pedih.
5- Cobaan dan musibah dinilai sebagai ujian bagi wali Allah yang beriman.
6- Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia dengan diberikan musibah yang ia tidak suka sehingga ia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa.
7- Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak. Ath Thibiy berkata, “Hamba yang tidak dikehendaki baik, maka kelak dosanya akan dibalas hingga ia datang di akhirat penuh dosa sehingga ia pun akan disiksa karenanya.”  (Lihat Faidhul Qodir, 2: 583, Mirqotul Mafatih, 5: 287, Tuhfatul Ahwadzi, 7: 65)
8- Dalam Tuhfatul Ahwadzi disebutkan, “Hadits di atas adalah dorongan untuk bersikap sabar dalam menghadapi musibah setelah terjadi dan bukan maksudnya untuk meminta musibah datang karena ada larangan meminta semacam ini.”
Jika telah mengetahui faedah-faedah di atas, maka mengapa mesti bersedih? Sabar dan terus bersabar, Tetap berIstiqomah.
Semoga Allah memberi kita taufik dalam bersabar ketika menghadapi musibah. Wallahul muwaffiq.

 

Blogger news

Blogroll

About