Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata
‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan,
mempercayakan dan mewakilkan. Seseorang yang
bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan,
mempercayakan dan mewakilkan segala
urusannya hanya kepada Allah SWT.
Sedangkan dari segi istilahnya, tawakal
didefinisikan oleh beberapa ulama salaf, yang sesungguhnya memiliki muara yang sama.
Diantara definisi mereka adalah:
1. Menurut Imam Ahmad bin Hambal.
Tawakal merupakan aktivias hati, artinya
tawakal itu merupakan perbuatan yang
dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang
diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu
yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan
tawakal juga bukan merupakan sebuah
keilmuan dan pengetahuan. (Al-Jauzi/
Tahdzib Madarijis Salikin, tt : 337)
2. Ibnu Qoyim al-Jauzi
“Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah
(baca; penghambaan) hati dengan
menyandarkan segala sesuatu hanya kepada
Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan
bahwa Allah akan memberikannya segala
‘kecukupan’ bagi dirinya…, dengan tetap
melaksanakan ‘sebab-sebab’ (baca ; faktor-
faktor yang mengarakhkannya pada sesuatu
yang dicarinya) serta usaha keras untuk
dapat memperolehnya.” (Al-Jauzi/ Arruh fi
Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail
minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)
Banyak orang yang salah memahami tawakal
dalam kehidupan sehari hari, mereka
mengharapkan sesuatu tanpa ada usaha
sedikitpun mendapatkan apa yang diinginkannya
itu. Ini adalah sikap tawakal yang salah kaprah.
Bertawakal itu diujung usaha. Kita harus berusaha
semaksimal mungkin kemudian baru bertawakal
dan berserah diri pada Allah.
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia
akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal
kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan
bagi tiap-tiap sesuatu. (At Thalaq 2-3).
Allah menjamin rezeki orang yang selalu berusaha
dan bertawakal padaNya sebagaimana yang
dikisahkan oleh Umar bin Khattab ra bahwa ia
pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda :
‘Sekiranya kalian benar-benar bertawakal
kepada Allah SWT dengan tawakal yang
sebenar-benarnya, sungguh kalian akan
diberi rizki (oleh Allah SWT), sebagaimana
seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi
pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan
pulang di sore hari dalam keadaan kenyang ”
…. (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).
Tidak dibenarkan ketika ditimpa suatu penyakit
kemudian berdiam diri pasrah dan bertawakal pada
Allah tanpa ada usaha sedikitpun untuk berobat.
Mengharapkan kekayaan atau kesuksesan namun
hanya berdiam diri dirumah tanpa usaha
sedikitpun. Itu adalah tawakal salah kaprah.
Melatih sikap tawakal
Sikap tawakal tidak akan muncul begitu saja dalam
diri seseorang. Sikap itu akan muncul dan
tertanam dalam diri seseoang melalui latihan ,
pengalaman dan waktu yang lama. Sikap tawakal
adalah masalah hati. Tidak mudah untuk bersikap
ikhlas dan berserah diri pada Allah.
Hati manusia selalu dirongrong oleh rasa cemas,
takut, was was, bimbang , ragu yang selalu
ditiupkan syetan kedalam hati manusia. Kita harus
sanggup mengalahkan semua perasaan tersebut.
Jika berbagai sifat dan perasaan tersebut masih
bercokol dihati kita , sulit bagi kita untuk
bertawakal pada Allah.
Shalat yang dilakukan dengan benar dan khusuk
dapat membantu menghilangkan berbagai rasa
cemas, takut, bimbang, ragu seperti tersebut
diatas. Ayat dan kalimat yang dibaca dalam shalat
jika dipahami dan dimengerti maksudnya berisi
motivasi dan nasehat yang dapat menghilangkan
semua sifat tersebut. Namun jika shalat dilakukan
secara asal asalan tanpa mengerti makna dan
maksud ayat yang dibaca , berbagai sifat buruk
tersebut tidak akan bisa hilang.
Kalimat dzikir seperti tasbih, hamdalah, tahlil,
hasbalah, yang dibaca didalam hati dengan
sungguh sungguh dan penuh keyakinan juga dapat
membersihkan hati dari sifat buruk tersebut.
Membaca Qur’an setiap hari dengan memahami
setiap ayat yang dibaca (membaca dengan
terjemahannya), juga dapat membersihkan hati
dari berbagai penyakit tersebut diatas.
Sifat tawakal dan berserah diri pada Allah adalah
kekuatan yang maha dahsayat dalam menghadapi
berbagai masalah dan persoalah hidup, Allah telah
menjajikan ini dalam surat Ali imran ayat 160:
Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang
yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah
membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan),
maka siapakah gerangan yang dapat menolong
kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu
hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin
bertawakkal. (Ali Imran 160)
Semoga kita terus diberikan kekuatan oleh Allah SWT, agar senantiasa bertawakal.